Senin, 07 Maret 2016

Kenapa Prokok Pasif lebih berbahaya? Ini Jawabanya



Perokok pasif menghirup asap rokok yang tersebar disekelilingnya. Perokok pasif tidak kalah berbahayanya dibandingkan dengan perokok aktif karena mereka menghirup aliran samping (sidestream) dan aliran utama (mainstream). Aliran samping adalah asap rokok yang berasal dari ujung rokok yang terbakar, sedangkan aliran utama adalah asap rokok yang telah dihisap oleh perokok lalu kemudian dihembuskan kembali ke udara. Kandungan asap rokok yang tersebar ke udara sangatlah berbahaya. Menurut penelitian ada 4000 senyawa kimia berbahaya yang terdapat pada asap tembakau ini. Diantaranya adalah nikotin, tar, sianida, benzene, cadmium, metanol, amonia, arsenik.
Asap rokok dalam konsentrasi tinggi dapat lebih beracun yaitu memiliki 2 kali konsentrasi nikotin dan tar, 3 kali jumlah zat karsinogenik, 5 kali kadar karbonmonoksida dan 50 kali jumlah amonia lebih banyak. Sungguh mengerikan! Menghirup asap rokok orang lain (alias menjadi perokok pasif) lebih berbahaya tiga kali lipat dibandingkan mengisap rokok sendiri (perokok aktif). Mengapa? Karena racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari ujung rokok yang sedang tak dihisap. Asap tersebut merupakan hasil dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna. Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar, karena racun yang ia isap lewat hidungnya tidak terfilter, sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang diisap.
Perokok pasif berpotensi terkena berbagai macam penyakit, diantaranya :

  • Resiko kanker paru-paru
  • Resiko penyakit asma
  • Resiko infeksi telinga
Perokok pasif pada ibu hamilberdampak pada janin dapat mengakibatkan :
  • Berat badan bayi baru lahir rendah
  • Kelahiran bayi premature
  • Memperparah asma dan alergi pada bayi
  • Syndrom kematian bayi mendadak
Perokok pasif pada anak-anakdapat mengakibatkan :
  • Asma
  • Infeksi paru-paru
  • Peningkatan resiko berkembangnya tuberkolosis jika terpapar carrier
  • Alergi
  • Kesulitan belajar dan sulit konsentrasi
  • Terhambatnya perkembangan otak dan efek perilaku karena terganggunya sistem syaraf.
  • Peningkatan kerusakan gigi
  • Memperbesar peluang penyakit bronchitis
  • Memperbesar resiko kematian dan kerusakan organ tubuh
Hanya 30 menit terpapar perokok pasif dapat mempengaruhi bagaimana pembuluh darah mengatur aliran darah, untuk tingkat yang sama dengan yang terlihat pada orang yang merokok. Eksposur jangka panjang untuk perokok pasif dapat menyebabkan perkembangan aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah).

Tentu saja yang paling baik adalah tidak merokok sama sekali, serta selalu menjauhi area yang dipenuhi asap rokok.

Sabtu, 20 Februari 2016

Ciri-cici Pedofilia. yang harus di ketahui




Kekerasan seksual pada anak yang dilakukan oleh seorang pedofilia tengah marak terjadi. Bahkan, menurut data KPAI, terdapat kasus kekerasa anak sebanyak 21.689.797 selama empat tahun belakangan ini.

Untuk itu, ketua aksewari asosiasi kesehatan jiwa anak dan remaja, Dr Suzy Yusna Dewi menjelaskan ciri-ciri pedofilia. Menurutnya, pedofil umumnya dilakukan oleh seorang pria dan tidak memiliki ciri fisik secara khusus.


"Pedofil nggak ada ciri khusus atau tampilannya. Tapi mereka punya hubungan terbatas sama teman. Dia akan lebih tertutup dari orang di sekitarnya. Memiliki karakter bekas korban, menjadikan anak-anak sebagai korban kekerasan mereka. Biasanya mereka akan mencari korbannya anak tertentu atau gender tertentu," papar Suzy dalam seminar 'Deteksi Dini dan Penanganan Terkini Kekerasan Seksual pada Anak', di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan,
Tidak hanya itu, seorang pedofilia juga kerap berbicara mengenai atau memperlakukan anak kecil seperti orang dewasa.

"Mereka akan menggunakan tips dan trik berbagai cara agar anak-anak tertarik dengannya. Termasuk salah satunya dengan mengeluarkan materi," ujarnya.
Pedofilia juga biasanya terlihat sopan, hangat dengan anak, dekat dengan anak, memiliki banyak gambar anak-anak di rumahnya dan kerap melakukan kegiatan bersama anak.
"Pedofil akan terampil sekali dalam memanipulasi anak. Bahkan lebih sering berinteraksi dengan anak-anak dan tidak melibatkan orang dewasa, kerap fotoin anak, mengkoleksi erotika anak," kata dia.

Untuk itu, Suzy pun mengimbau agar para orang tua lebih memperhatikan buah hati. Menurutnya, memperhatikan perubahan anak dan mengenali lingkungan sekitar dapat menjadi salah satu cara melindungi anak dari pedofilia.

"Orang tua harus lebih banyak waktu sama anak. Harus lebih peka sama anak. Karena terkadang anak sudah memberikan tanda, sudah depresi tapi orang tua tidak mengetahui itu dan jangan lupa orang tua harus mengenali ciri-ciri pedofilia dan mengenali lingkungan sekitar," tandasnya.

sumber :sindonews

Fachrul Lutfi, sang penakluk Virus Dengue. Fomav-D Penakluk DBD



Mantan karyawan perusahaan farmasi di Kota Pontianak, Fachrul Lutfi mengaku menemukan formulasi obat anti virus dengue dari jenis obat tradisional yang dapat membunuh virus penyebab demam berdarah dengue (DBD). "Dari tahun 1990-2003 saya bekerja sebagai asisten apoteker di perusahaan farmasi Pontianak dan tugas sehari-hari meracik obat herbal sesuai pesanan dari resep dokter," kata Fachrul Lutfi dalam keterangan pers di Pontianak, Kamis (5/11).


Ia mengatakan, berbekal pengalaman sebagai seorang peracik obat herbal, secara tidak sengaja meracik dua jenis obat tradisional asli Indonesia dan dari luar di pada 2006. Obat bernama Fomav-D itu diduga telah menyembuhkan anak salah seorang sahabatnya yang divonis dokter mengalami penyakit DBD. "Saya memformulasikan dua jenis obat tersebut kemudian diberikan kepada anak itu. Ternyata hasilnya suhu tubuh anak itu yang semula tinggi, menjadi turun dan dinyatakan sembuh oleh dokter yang menanganinya," kata Fachrul.

Meskipun telah dinyatakan sembuh, keesokan harinya tetap dilakukan uji laboratorium hasilnya pasien negatif dari infeksi virus dengue. "Sejak saat itu saya mensosialisasikan Fomav-D untuk membantu teman-teman dan kerabat terdekat guna penyembuhan dari infeksi virus dengue," katanya.
Menurut ia, hingga kini puluhan pasien positif DBD disembuhkan berkat Fomav-D. Terakhir Fomav-D diberikan kepada dr Herni yang dinyatakan positif DBD oleh dokter yang menanganinya dan berhasil sembuh.

Ia berharap, pemerintah daerah dan pusat merespon penemuannya agar upaya penyembuhan pasien DBD bisa cepat ditangani. "Karena selama ini belum ditemukan obat yang manjur dan hanya berfungsi menambah daya tahan pasien agar bisa melewati masa inkubasi selama tujuh hari. Bukan membunuh virus dengue seperti Fomav-D," ujarnya.

Fachrul menambahkan, berdasarkan pengalaman dirinya obat herbal termasuk Fomav-D temuannya tidak memberikan efek samping. "Kecil kemungkinan ada efek samping, kalau kurang atau kelebihan dosis paling penyakit pasien tidak langsung sembuh," kata Fachrul.

Sementara itu, dr Herni salah seorang pasien DBD yang sembuh setelah mengonsumsi Fomav-D, menduga penyakit DBD yang dialaminya sembuh setelah mengonsumsi obat tersebut. Ia menyatakan, mengenal Fachrul Lutfi karena dikenalkan oleh mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak dr Lily Sadiah. "Dokter Lily pernah kena DBD Juli lalu," katanya.

Ia mengatakan, Fachrul memberi lima tablet Fomav-D untuk mengobati penyakit DBD yang telah menurunkan trombosit hingga 24.000/mili meter dan HCT 52,0 persen. "Setelah dua kali mengonsumsi obat Fomav-D, trombosit langsung naik menjadi 108.000/mm, dan HCT 39,9 persen sehingga dokter yang merawat menyatakan saya sembuh dan boleh pulang," katanya.

Herni mengakui, selain mengonsumsi Fomav-D, ia juga menggunakan obat yang diberikan dokter, tetapi hanya untuk menjaga daya tahan tubuh bukan membunuh virus dengue. Meski telah menyatakan menemukan obat anti virus dengue, namun Fachrul belum melakukan uji klinis untuk obat tersebut.

Sebelumnya, Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengakui berbagai upaya maksimal telah dilakukan dalam menekan jumlah kasus maupun korban meninggal akibat DBD,. Upaya yang dilakukan mulai dari "fogging" fokus dan massal hingga pemberian abate untuk membunuh nyamuk Aedes Aegypti di tempat penampungan air bersih masyarakat kota itu.


Sumber TV one

Jumat, 19 Februari 2016

Perbedaan Malaria dan DBD, Ternyata..




Musim hujan telah tiba, penyakit DBD mulai mengancam kesehatan kita. DBD di sebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. kemarin ane baru di tanya apasih perbedaan DBD dengan Malaria,?? nah untuk menjawab pertanyaan itu, ane udah rangkum nih dari berbagai sumber, silangkan di baca-baca...( jangan lupa isi buku tamu  atau komen di bawah ).
 
Pertama, Malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina, sedangkan demam berdarah ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Gejala-gejala yang mirip antara kedua penyakit tersebut tersebut antara lain demam, sakit kepala, muntah, nyeri otot, pendarahan dan diare.

Kedua, penyebab malaria bukanlah virus seperti halnya demam berdarah, penyakit malaria diebabkan oleh parasit plasmodium yang menular akibat siklus kompleks di antara manusia dan nyamuk. Siklus tersebut dimulai dari seekor nyamuk menggigit manusia yang sudah terinfeksi dan mengambil parasit beserta darah yang kemudian menginfeksi nyamuk tersebut, nyamuk ini akan pergi dan menggigit sekaligus menyuntikan parasit tersebut kepada manusia lain.

 Ketiga, masa inkubasi yang lebih panjang pada malaria (sekitar 1 – 3 minggu bahkan bulan sejak awal tertular) sedangkan virus demam berdarah memiliki masa inkubasi yang cepat 3-4 hari. Parasit malaria membutuhkan waktu untuk matang sebelum berkembang dan menginfeksi sistem tubuh manusia, dalam jangka waktu tersebut parasit hanya akan tinggal dalam sel darah manusia.

Keempat, malaria lebih banyak dijumpai di kawasan Afrika sedangkan demam berdarah banyak dijumpai di kawasan Asia Tenggara. Nyamuk anopheles suka berkembang biak di air tenang yang kotor, sedangkan nyamuk aedes aegypti suka berkembang biak di air tenang yang bersih.

Kelima, nyamuk anopheles betina keluar untuk mencari makan pada waktu senja, ataupun fajar, sedangkan nyamuk aedes aegypti keluar untuk mencari makan pada siang hari.

Keenam, demam berdarah dapat disembuhkan dengan istirahat yang cukup untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan asupan cairan yang cukup sangatlah penting. Sedangkan untuk malaria pengobatan harus dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasikan jenis parasit yang menginfeksi. 

Untuk itu kita perlu berhati-hati terhadap kedua jenis ini, walaupun malaria lebih banyak dijumpai di Afrika bukan berarti kawasan Indonesia bebas malaria, begitu juga dengan demam berdarah. Mencegah lebih baik daripada mengobati.